Select Menu

Favourite

Jawa Timur

Wisata

Culture

Transportasi Tradisional

Rumah Adat

Bali

Pantai

Seni Budaya

Kuliner

Rumah Adat yang ada di Indonesia sebenarnya banyak sekali, kalau dikumpulkan dan di share di sini mungkin tidak akan cukup waktu satu minggu buat saya. Hehehe.... Itu karena Indonesia memang memiliki kekayaan budaya yang sangat luar biasa. Setiap suku yang ada di Indonesia memiliki banyak rumah adat yang sangat unik dan cantik. Berikut adalah sebagian kecil dari rumah adat yang ada di Indonesia.


1. Provinsi DI Aceh / Nanggro Aceh Darussalam / NAD
Rumah Adat Tradisional : Rumoh aceh
 
2. Provinsi Sumatera Utara / Sumut
Rumah Adat Tradisional : Rumah balai batak toba
 3. Provinsi Sumatera Barat / Sumbar
Rumah Adat Tradisional : Rumah gadang
 
 5. Provinsi Jambi
Rumah Adat Tradisional : Rumah panggung
6. Provinsi Kalimantan Barat / Kalbar
Rumah Adat Tradisional : Rumah panjang 
 7. Provinsi Lampung
Rumah Adat Tradisional : Nuwo sesat
8. Provinsi Jawa Tengah / DI Yogyakarta / Jawa Timur
Rumah Adat Tradisional : Rumah joglo
9. Provinsi Kalimantan Timur / Kaltim
Rumah Adat Tradisional : Rumah lamin
 10. Provinsi Kalimantan Tengah / Kalteng
Rumah Adat Tradisional : Rumah betang
 11. Provinsi Irian Jaya / Papua
Rumah Adat Tradisional : Rumah honai
12. Provinsi Kalimantan Selatan / Kalsel
Rumah Adat Tradisional : Rumah banjar


KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO

KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO Sang “Proklamator” berlokasi di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sanawetan Kota Blitar Jawa Timur.  KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO telah menjadi ikon bagi Kota Blitar. Bahkan bisa dikatakan kata SUKARNO identik dengan  kata BLITAR, begitupun sebaliknya. Ikon itulah yang membuat kota Blitar menjadi salah satu tujuan wisata ternama di Jawa Timur.

KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO

Memasuki KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO dimulai dari sebuah gapura Agung yang menghadap ke selatan. Bangunan utama disebut dengan Cungkup Makam Bung Karno. Cungkup Makam Bung Karno berbentuk bangunan Joglo, yakni bentuk seni bangunan khas masyarakat   jawa.  Makam Bung Karno di apit oleh kedua Orang Tua Beliau, di sebelah  kiri ada  Makam Ayahanda "R. Soekeni Sosrodihardjo" dan di sebelah kanan  ada Makam Ibunda "Ida Aju Njoman Rai". 

KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO

Cungkup Makam Bung Karno diberi nama Astono Mulyo. Diatas Makam diletakkan sebuah batu pualam hitam bertuliskan :Disini dimakamkan Bung Karno Proklamator Kemerdekaan Dan Presiden  Pertama Republik Indonesia. Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO

Dahulu kala, Peziarah hanya bisa melihat batu nisan dari luar kaca penyekat. Dan pada  masa Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati sebagai wapresnya, dinding kaca yang membalut bangunan makam itu dibongkar total. Dan Kini setiap peziarah yang datang ke joglo makam tersebut bisa langsung menyentuh batu nisan.

KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO

Selain berziarah ke makam , di  Areal KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO juga terdapat  perpustakaan Bung Karno yang menyediakan banyak koleksi buku peninggalan sang Proklamator. Di perpustakaan ini, Pengunjung bisa lebih banyak memperoleh informasi tentang segala sesuatu berkaitan dengan sepak terjang perjuangan Bung Karno.

KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO

Selain perpustakaan, Areal  KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO juga terdapat Museum Bung Karno yang menyimpan banyak koleksi benda - benda peninggalan Bung Karno. Salah satu koleksi yang paling banyak menjadi daya tarik pengunjung, adalah lukisan Bung Karno. Konon lukisan ini seperti manusia yang masih hidup. Dibagian dada lukisan ini terdapat irama denyut nadi yang berdetak.

KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO

Selain menyimpan lukisan dan foto Bung Karno,  museum ini juga menyimpan bendera merah putih yang terbuat dari kain mukena dan sempat dikibarkan di  Rengasdengklok. 

Berkunjung ke tempat wisata lokal andalan Kota Blitar ini, merupakan sarana bagi kita untuk mengenang jasa-jasa beliau sekaligus meneladani nilai Nasionalisme pada sosok Bung Karno.
Sekilas mungkin orang tidak akan menyangka apa yang dilihatnya saat di kampung Cipari, Kecamatan Garut adalah sebuah Masjid. Ya, Masjid Cipari atau Masjiid A-Syuroini memang berbeda dengan kebanyakan masjid lainnya di Indonesia. Pasalnya, bentuk bangunannya mirip dengan sebuah gereja. Selain itu masjid tertua di Garut ini pun mengadopsi gaya Art Deco yang tak lazim diadopsi oleh sebuah masjid.
Mungkin dari seluruh wilayah di Indonesia ini hanya Masjid Cipari dan Masjid Somobito di Mojowamo Mojokerto, Jawa Timur yang memiliki bentuk mirip gereja. Hanyalah kubah dan menaranya yang menjadi ciri yang nampak dari  bangunan tersebut merupakan masjid.
Menurut catatan sejarahnya , Masjid Cipari ini bukan hanya masjid yang digunakan untuk ritual ibadah saja, namun pernah menjadi markas perjuangan dan pusat pergerakan para ulama pejuang. Masjid inilah yang dipakai para ulama untuk melakukan musyawarah para pejuang kemerdekaan, bahkan  menjadi benteng pertahanan dari serangan luar.

Sejarah Perkembangan Masjid Cipari
Tahun 1895 pertama kali masjid ini dibangun di lingkungan pesantren Cipari. Namun  saat itu wujud masjid Cipari tidak seperti sekarang dan kondisinya masih sangat sederhana. Kemudian sepeninggal sang pendiri pesantren  KH Harmaen, pembangunan masjid kembali di lakukan di bawah pimpinan anaknya yaitu KH Yusuf Tauziri pada tahun 1933.  Pembangunan masjid itu juga di lakukan seiring dengan kemajuan pesat pesantren da bertambahnya jumlah pesantren.
Nah, selain itu perluasan masjid ini juga mempunyai kaitan erat dengan  situasi pergerakan nasional  karena KH Yusuf Tauziri merupakan seorang ketua PSII cabang Wanaraja. Selain itu kemajuan pesantren  juga ditunjang oleh dihapuskannya ordonansi sekolah luar oleh pemerintah kolonial Belanda pada tanggal 13 Februari 1932 akibat penentangan berbagai organisasi nasional dan Islam, seperti Budi Utomo, Muhamadiyah, PNI, PSII, dan yang lainnya. Masjid ini pun pernah dipakai untuk Muktamar Sarekat Islam se-Indonesia pada tahun 1933-1934.
Memasuki era perang kemerdekaan,  pesantren Cipari memainkan peranannya. Para santri di sana  dididik sebagai pejuang, selain belajar ilmu agama karena pesantren ini menjadi salah satu satu pesantren dari organisasi perjuangan Syarikat Islam.
Masjid ini pun kerap digunakan sebagai tempat untuk latihan perang, pertahanan, bahkan dapur umum para pejuang kemerdekaan. Saat  Agresi belanda ke-2, dibawah komando KH. Abdul Qudus dan KH. Yusuf Tauzirie, masyarakat di wilayah Garut timur dipersatukan dalam laskar Hizbullah, yang diantara angggotanya kemudian menjadi bagian dari tentara Siliwangi.
Nah, pada waktu pemberontakan DI/TII masjid ini sempat dijadikan tempat pengungsian, perawatan pejuang yang terluka ketika kembali dari hijrah ke Yogyakarta, tempat perlindungan para pejuang dan keluarganya.
Masjid ini pernah menjadi target serangan DI/TII, kurang lebih 22 kali mesjid ini diserang oleh DI-TII. Namun, saking tebal dindingnya yang lebih dari 40 sentimeter, masjid ini bisa bertahan dan kini masih tegak berdiri dengan kokoh. Lubang-lubang bekas peluru yang terdapat di jendela menara masjid menjadi saksi bisu serangan tersebut.
Masjid Cipari yang Art Deco
Melihat bentuk bangunan dari Masjid Cipari ini memang sangat mirip layaknya sebuah gereja.  Bentuk bangunannya  memanjang dengan pintu utama yang terletak  di tengah-tengah  muka bangunan dus keberadaan menaranya yang terletak di ujung bangunan  di atas pintu utama. Dari bentuk dan posisi menara dan pintu utama tersebut, bangunan ini memang menyerupai sebuah bentuk bangunan gereja.
Mengenai langgam Art Deco, belum ada catatan sejarah yang mengatakan mengapa masjid in mengadopsi langgam Art Deco untuk bangunannya. Langgam Art Deco pada masjid ini tampak dari pengolahan fasad bangunannya yang  berbentuk geometris. Arsitektur Art Deco yang dilahikan oleh sekelompok arsitek Amsterdam School dari Belanda ini memang memiliki memiliki ciri elemen dekoratif geometris yang tegas dan keras
Pola-pola dekorasi geometris masjid yang berulang di atas material batu kali memperlihatkan dengan jelas langgam ini. Selain itu, garis horizontal yang halus pada sisi samping kanan maupun kiri juga mencirikan langgam yang sama. Bentuk menara dan atapnya yang menyerupai kubah dengan beberapa element dekorasi pada bagian samping maupun puncaknya juga mengingatkan pada langgam ini.
Menara masjid berketinggian lebih kurang 20 meter ini menarik perhatian bahkan seperti menjadi eye catcher pada bangunan masjid. Mungkin sekadar simbol untuk menandai bahwa bagunan ini bukan gereja melainkan masjid, maka diletakkanlah bulan sabit di ujung menara. Terdapat beberapa lantai pada interiornya, dengan lantai teratas merupakan ruangan sempit berlantai pelat baja yang dikelilingi semacam balkon kecil yang juga daripelat baja.
Dalam ruangan bangunannya terdapat ruang mihrab berupa penampil yang menempel di dinding arah kiblat. Sementara, ruang shalatnya pun lebih mirip ruang kelas yang dapat dimasuki dari pintu di sebelah utara dan selatan atau dari pintu timur yang terletak di antara ruang naik tangga. 
Lokasi Masjid
Batas-batas mesjid sekarang, di sebelah utara adalah Kampung Pinggirsari dan Kampung Tegalkiang Kecamatan Sukawening, selatan adalah Kampung Babakan Cipari dan Kampung Ci Kecamatan Pangatikan, barat adalah Pasar Karangsari Kampung Cimaragas dan pesawahan Kecamatan Pangatikan, dan sebelah timur adalah sawah dan makam Kecamatan Sukawening 
Cara mencapainya
Masjid Cipari Wanaraja dapat dicapai dari Terminal Cileunyi Bandung ke Terminal Ciawitali Garut Kota dengan waktu tempuh ± 1,5 jam. Kemudian menuju lokasi dengan menggunakan angkutan kota satu kali jurusan Wanaraja sekitar 50 menit dengan jarak ± 4 Km dari Kecamatan Wanaraja dan ± 12 Km dari ibukota kabupaten. Selanjutnya dapat dicapai dengan naik ojeg dengan jarak ± 1 km sekitar 5-10  menit. Mesjid Cipari Wanaraja berada di dalam Kampung Babakan Cipari, Desa Cipari, Kecamatan Pangatikan, pada posisi koordinat: 7º 09’ 171” LS 107º 59’ 764’’ BT. (berbagai sumber)
Presiden pertama Soekarno, Megawati Soekarno putri, Moh Hatta, Ali Sadikin, Jendral Soemitro belum lagi sederat nama lainnya pernah singgah dan menginap di Vila-vila taman wisata ini. Yup Taman Selecta namanya, sebuah taman 13 Km dari Malang yang berada di  terletak di desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji.
foto: www.sidomi.com
Taman Selecta ini merupakan tempat peristirahatan yang umurnya sudah cukup tua karena  di bangun sejak jaman Belanda. Adalah seorang Belanda bernama Reyter Dewild yang awalnya membangun tempat peristirahan ini untuk kaum borjuis Eropa. Dengan luas 20 hektar dan letaknya 1100 M dari permukaan laut, taman ini merupakan sebuah tempat yang lengkap dengan fasilitas hiburannya dari  kolam renang, lapangan tenis, bungalow dan taman-tamannya.
 Seperti yang dikatakan di muka, para petinggi negara tak jarang menyempatkan waktunya untuk menginap di taman wisata ini.  Nah, salah satu villa yang cukup bersejarah di sana adalah Villa De Brandarice  yang sekarang bernama vila BimaShakti.
De Brandarice ini menjadi semacam saksi bisu sejarah nasional negeri ini. Saat itu di sana, Bung Karno sering terlihat  berolah raga kecil dan berjemur diri di pagi hari, siangnya mengunci diri di kamar dan sorenya menikmati pemandangan alam yang tampak indah dari ruang santai.
foto:www.peponkz.student.umm.ac.id
Bung Karno dan Bung Hatta pun pernah tinggal di tempat wisata ini ketika terjadi Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948. Memang tidak ada yang tahu mereka tinggal selama berapa lama. Beliau datang dan pergi karena masa perang, tetapi Bung Karno kerap tinggal di kawasan itu pada masa setelah tahun 1950 saat kondisi negara relatif lebih aman.
 Bung Hatta pada 1956 menjelang saat KonferensiKNIP, pernah juga bermalam di Villa Bima Shakti dan menorehkan “Keris Semangat”tentang perekonomian masa depan negeri ini. Disitu, Bapak Perekonomian Indonesia ini menulis “Tinta Emas” agar membangun ekonomi melalui perkoperasian dan dimulai dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat.
Selain Bung Karno dan Bung Hatta,  Ali Sadikin Gubernur DKI era 70-an pernah datang vila Bima Sakti. Begitu pun dengan  Jenderal Sumitro yang pada tahun 1968 pernah singgah ke Selecta dan meminta kolam renang taman rekreasi itu dijadikan sebagai pulau terapung. Tak hanya itu, di era  Megawati Soekarno Putri  masih menjabat sebagai Presiden juga pernah transit di  Taman wisata ini.
Yah, memang Taman Selecta ini teramat spesial, belum lagi soal panoramanya. Bangunan Villa Bima Shakti ini merupakan tempat tertinggi di alam pegunungan Kota Batu. Dari sana seluruh Kota Batu dan sekitarnya dapat dipandang dan keindahannya bisa dinikmati tanpa halangan, semua keindahan dari kejauhan mampu diterobos mata. Villa Bima Shakti yang berada di puncak bukit yang dikelilingi Gunung Panderman, Gunung Arjuno, Gunung Anjasmoro, serta Gunung Welirang yang selalu mengepulkan asap belerang.
Tak hanya itu, eksotisme panorama alam pegunungan yang indah dan sedap dipandang mata serta penuh nilai historis. Taman Selectamelambung menjadi pioner pariwisata di Kota Wisata Batu Jawa Timur, bahkan di Indonesiabaik  di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara seperti dari Belanda, Taiwan dan Malaysia. (berbagai sumber)
Museum memang sejatinya menyimpan sekaligus melestarikan benda-benda peninggalan sejarah masa lalu bangsa. Tidak hanya itu museum juga mempunyai tugas dan kegiatan untuk memamerkan dan menerbitkan hasil-hasil penelitian dan pengetahuan tentang benda-benda yang penting bagi Kebudayaan dan llmu Pengetahuan.
Seperti yang kita tahu di museum itu terdapat berbagai macam benda kuno, dari patung, artefak, atau benda-benda bersejarah lainnya, termasuk juga naskah kuno. Nah, di beberapa museum di Indonesia ada museum yang menyimpan banyak koleksi-koleksi naskah yang umurnya rata-rata lebih tua dari museumnya itu sendiri, di museum mana sajakah yang banyak menyimpan koleksi-kolksi kuno itu
Museum pertama adalah Museum Sri Baduga di Jalan Peta, Bandung, di museum yang luasnya mencapai 8.415,5 m2 ini memiliki koleksi naskah kuno yang lumayan banyak, yaitu kurang lebih 147 naskah kuno. Yang berasal dari sejumlah daerah di Jawa Barat Naskah kuno yang dikoleksi seperti Cacarakan (Haracaraka-Jawa), Jawa kuno, Pegon (Arab Sunda), Sunda kuno, dan naskah yang lainnya. Naskah-naskah tersebut ditulis dengan menggunakan berbagai huruf kuno seperti huruf Sunda kuno, Jawa Kuno hingga bertuliskan huruf Palawa.
foto:www.toscaqueen-museumsribaduga.blogspot.com
Naskah-naskah itu berisi ajaran sastra, agama, pedoman hidup, kesehatan, adat istiadat, dan silsilah. Hampir sebagian besar naskah itu dipengaruhi oleh budaya India karena kebanyakan berasal dari zaman yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu.
Keberadan naskah-naskah itu memiliki arti dan nilai yang tinggi salah satunya karena mengungkapkan kondisi sosial budaya mayarakat Sunda tempo dulu yang dituliskan di daun lontar, kertas Eropa, logam dan kayu
Kedua, ada Museum Bengkulu yang mempunyai jumlah koleksi yang hampir sama dengan museum Sri Baduga, yaitu sekitar 120-an koleksi. Naskah koleksi dari museum ini sebagiannya adalah naskah kuno "ka ga nga. Ka ga nga ini merupakan tulisan asli masyarakat Melayu Bengkulu yang berasal dari aksara semit kuno, proto melayu, selain di Bengkulu ka ga nga juga terdapat di Jambi, dan Lampung tulisan ini berasal dari aksara Palawa. Huruf ka ga nga untuk masyarakat Suku Serawai di Bengkulu dikenal dengan tulisan ulu atau serat ulu, sedangkan untuk suku rejang dikenal dengan tulisan rencong.
foto:www.dennytipis.wordpress.com
Huruf ka ga nga sendiri  lahir menjelang abad ke 12, huruf ini merupakan bagian dari  tulisan aksara semit kuno atau lebih spesifik dari proto sumatra bahkan di Bandung ka ga nga juga dikenal lahir dari aksara Palawa atau naskah Melayu
Dari beberapa naskah yang dikoleksi di museum ini kebanyakannya adalah tulisan yang berisikan kitab pengobatan, penyakit, kisah atau kejadian alam semesta, cerita tentang sang kancil, hukum adat, pantun, tata cara hubungan kaum muda, tata cara bertani, pantun, serta jampi dan mantra. Tulisan ka ga nga untuk suku Rejang Lembak terdiri atas 23 kata sedangkan Serawai Pasemah terdiri atas 28 kata dan memiliki 13 tanda baca. (berbagai sumber)
Kenapa banyak sekali benteng-benteng peninggalan bangsa portugis di wilayah timur Indonesia, dan jarang sekali kita temukan di barat Indonesia? Ya, mungkin jawabnya karena dulu di wilayah timur Indonesia kaya akan rempah-rempah yang sangat diperlukan oleh bangsa portugis, entah untuk dikonsumsi sendiri atau di perdagangkan kembali
          Saking banyaknya rempah-rempah mereka lantas tergiur untuk membawanya. Namun perjalanan dari nusantara ini ke negaranya memakan waktu yang sangat lama terlebih lagi kapal yang mereka naiki jelas-jelas berbeda dengan kapal zaman sekarang. Alih-alih butuh tempat sementara untuk menetap dan mengatur segala sesuatu termasuk urusan administratifnya, mereka pun membuat benteng disamping sebagai tempat untuk menyimpan rempah-rempahnya.
Ukuran benteng yang mereka buat pun tidak  kepalang kecil melainkan berukuran besar yang terbuat dari material yang kokoh, cukup untuk menampung orang-orangnya dari mereka yang hanya sekedar kuli angkut sampai perwira atasan. Benteng pun kerap dilengkapi dengan sistem pertahanan dari senjata sampai meriam-meriam untuk mempertahankan diri apabila diserang oleh rival dagang atau pun masyarakat lokal. Nah, dimana saja kah daerah-daerah di Nusantara ini yang banyak benteng portugisnya:
             Pertama ada di Benteng Portugis yang bernama Benteng Tohula yang tepat berada di tengah kota Tidore. Benteng Portugis Tohula berasal dari nama pelabuhan Tohula hasil karya arsitektur Spanyol yang letaknya tepat didepan benteng.  Dari benteng ini memang akan bisa melihat dengan jelas wilayah pantai sehingga pergerakan kapal musuh bisa terpantau sejak dini.
Benteng Tohula
Selain Benteng Tohula, di Tidore ada pula  Benteng Benteng Tore yang juga merupakan sisa peninggalan Portugis dan Belanda.Kedua benteng ini letaknya berdekatan, sama-sama di pusat kota serta dekat dengan Kedaton Kie, Singgasana Sultan Tidore.
Beralih ke Maluku tepatnya di Pulau Neira, disana  Benteng Belgica. Benteng ini pada awalnya adalah sebuah benteng yang dibangun oleh Portugis pada sekitar abad-1. Lama setelah itu, di lokasi benteng Portugis tersebut kemudian dibangun kembali sebuah benteng oleh VOC atas perintah Gubernur Jendral Pieter Both pada tanggal 4 September 1611. Benteng tersebut kemudian diberi nama Fort Belgica, sehingga pada saat itu, terdapat dua buah benteng di Pulau Neira yaitu; Benteng Belgica dan Benteng Nassau. Benteng ini dibangun dengan tujuan untuk menghadapi perlawanan masyarakat Banda yang menentang monopoli perdagangan pala oleh VOC.
Kemudian ada pula Benteng Tolukko merupakan salah satu benteng peninggalan Portugis yang berada di wilayah Maluku Utara khususnya di Ternate. Portugis ini mulai masuk dan menduduki wilayah Ternate sejak tahun 1512 dan benteng dibangun dengan tujuan sebagai tempat pengamanan misi dagang mereka serta kepentingan pengintaian musuh, bangunan ini mulai di bangun oleh Portugis pada tahun 1540.
Awal mula pembentukan benteng ini diberi nama Benteng Santa Lusia yang dibangun oleh Fransissco Serrao, salah satu yang menarik di Benteng Tolukko adalah ada suatu ruangan bawah tanah yang langsung tembus ke wilayah laut di sekitar benteng namun ruangan ini sekarang telah ditutup dengan alasan tertentu, hal ini juga di buat sebagai salah satu upaya portugis untuk menghindar dari musuh.
Benteng Tolukko
Pada tahun 1533 terjadi sebuah pemberontakan oleh rakyat Maluku, ini menghasilkan perebutan Benteng Tolukko, dan yang akhirnya Benteng Tolukko di duduki oleh pihak Indonesia. Tak lama Indonesia mendududuki benteng, bangsa Belanda mulai masuk dan akhirnya benteng ini pun direbut oleh pihak Belanda, tepatnya pada tahun 1602, tahun 1610 beberapa bagian benteng dilakukan renovasi oleh Belanda.
Penyebutan Benteng Tolukko dilakukan karena adanya sultan Ternate, yaitu Sultan Mandar Syah yang memeberikan penghormatan kepada Tolukko, sehingga makalah benteng ini disebut benteng tolukko.
Di Kota Ternate juga ada Benteng peninggalan Portugis yang bernama Benteng Gamlamo di daerah Kastela yang dibangun pada tahun 1522. Begitu pula dengan Benteng Kota Janji yang terletak di Selatan pusat kota Ternate. Berdekatan dengan Benteng Kota Janji ada Benteng Kalamata yang berdiri dekat dengan garis pantai dan dibangun pada tahun 1540.  (berbagai sumber)
Ada satu kesamaan kenapa jembatan-jembatan di bawah ini dikatakan sebagai jembatan merah, ya jembatan merah ini ternyata tidak hanya ada di kota pahlawan saja tetapi juga berada di wilayah lain Indonesia, misalnya di Bogor, Balikpapan, dan Kerinci walaupun tidak merah warnanya tapi masyrakat sekitar menyebutnya sebagai jembatan merah
            Merahnya sebutan bagi jembatan-jembatan itu karena sejarahnya yang kelam. Pasalnya, di jembatan itu dulunya pernah terjadi peristiwa pertumpahan darah antara pejuang Indonesia melawan penjajah di zaman revolusi fisik. Nah, dari saking banyaknya darah  para pejuang dan lawannya yang tumpah di jembatan itu, maka jembatan itu pun dinamakan Jembatan Merah.
            Yang pertama seperti yang kita ketahui adalah Jembatan Merah di Surabaya. Jembatan yang melintasi sungai Kalimas ini sungguh melegenda dan sepertinya tak ada satu pun orang Surabaya yang tidak mengenal jembatan ini.  Dibangun beratus-ratus tahun yang lalu, awalnya jembatan adalah jembatan kayu dan dibuat karena kesepakatan Pakubowono II dari Mataram dengan VOC tahun  11 November 1743. Dalam perjanjian disebutkan bahwa beberapa daerah pantai utara, termasuk Surabaya, diserahkan ke VOC, termasuk Surabaya yang berada di bawah kolonialisme Belanda.
sumber foto: www.akumassa.org
Sejak saat itu daerah Jembatan Merah menjadi kawasan komersial dan menjadi jalan vital yang menghubungkan Kalimas dan Gedung Residensi Surabaya. Dengan kata lain, Jembatan Merah merupakan fasilitator yang sangat penting pada era itu.  Tak heran jika gedung keresidenan Surabaya saat itu dibangun tepat di ujung barat jembatan, agar pemerintah bisa langsung mengawasi kebersihan, keamanan dan ketertiban di sekitarnya.
Dalam perkembangannya, Jembatan Merah ini berubah secara fisik sekitar tahun 1890-an, ketika pagar pembatas diubah dari kayu menjadi besi. Saat ini, kondisi jembatan yang menghubungkan jalan Rajawali dan Kembang Jepun di sisi utara Surabaya ini hampir sama seperti jembatan lainnya, dengan warna merah tertentu.
Nah, kenapa dimakan jembatan merah? Ya karena dilokasi tersebut pernah terjadi pertumpahan darah antara pejuang dengan penjajah.  Di tempat ini juga Brigadir A.W.S Mallaby, pemimpin angkatan bersenjata Inggris yang telah menguasai Gedung Internationale Crediet en Verening Rotterdam atau Internatio tewas terbunuh di tangan arek-arek Suroboyo. Jembatan Merah ini pun menjadi saksi bisu betapa gigih dan beraninya arek-arek Suroboyo dalam perang 10 November Surabaya melawan tentara Sekutu dan NICA-Belanda yang hendak menguasai kembali Surabaya.
Kedua ada Jembatan Merah di Balikpapan, masih di zaman perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1945-1947, Jembatan Merah ini juga menjadi saksi bisu  pertempuran para pejuang Balikpapan.
Saat itu para pejuang Balikpapan menggunakan taktik gerilya untuk melawan Belanda yang mencoba menguasai kembali Balikpapan. Nah, di jembatan ini kerap kali pecah pertempuran antara pejuang dan tentara Belanda. Tak pelak, jatuh korban dari pihak pejuang yang gugur dalam pertempuran dengan tentara Belanda di jembatan ini.
Setiap usai pertempuran, jembatan ini selalu penuh dangan bercak darah dari tentara Belanda dan pejuang yang terluka. Karena itu oleh para pejuang jembatan ini dikenal dengan nama Jembatan Merah. Jembatan Merah tersebut kini masih ada. Dan setiap harinya dilewati kendaraan yang melintas dari dan ke kebon sayur
Ketiga, Jembatan merah di Desa Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci ini. Akan tetapi walaupun jembatan itu dibilang sebagai jembatan merah, namun warna jembatan ini bukanlah  merah melainkan kuning.
Penamaan jembatannya sendiri sebagai jembatan merah karena dulunya, seperti kedua jembatan merah di atas jembatan ini dahulunya juga merupakan tempat pertumpahan darah dari pahlawan Kerinci dengan para penjajah.
Di jembatan itu banyak terjadi pertempuran karena pada Agresi Militer II tahun 1949, Belanda masuk ke desa Pulau Tengah dan membuat camp sekitar 50 meter berjarak dari jembatan. Nah, dengan adanya camp tentara Belanda di dekat jembatan tersebut membuat para petinggi Belanda menjadikan jembatan itu sebagai tempat untuk mengeksekusi penduduk Indonesia yang pro dengan republik.
Tentara Belanda tidak memberikan sedikit keringanan bagi warga Kerinci saat itu, setiap warga yang mau membayar “Tebus Nyawo”, maka tidak akan dibunuh. Selain sebagai tempat menghabisi nyawa rakyat Indonesia, jembatan ini juga dimanfaatkan oleh warga dan tentara perlawanan untuk mengintai para penjajah pada malam hari. Tak sedikit tentara belanda yang berhasil dibunuh oleh warga di bawah jembatan itu.
          Hampir setiap harinya terjadi pertumpahan darah di jembatan tersebut, sehingga setelah kemerdekaan pada tahun 1950-an, saat jembatan tersebut dibuat dengan besi, jembatan ini pun dinamakan jembatan merah. (berbagai sumber)